Beberapa orang terkadang bertanya-tanya, berapa banyak teman yang kita butuhkan dalam hidup kita? Kenyataannya, sebagian orang justru merasa nyaman berteman dengan hanya segelintir orang, namun dengan pertemanan yang intens, daripada berteman dengan banyak orang tetapi kesulitan menemukan – bahkan – seorang sahabat di antaranya.
Apakah Arti Sahabat?
Sahabat berbeda dengan teman. Kita bisa saja memiliki segudang teman, baik itu teman semasa kecil, teman sekolah, teman kuliah, teman kerja, atau teman yang kita di Facebook atau Twitter, tapi kecil kemungkinannya teman-teman yang kita miliki merupakan sahabat kita. Percaya atau tidak, dari banyak teman yang kita punya, mungkin hanya ada sedikit saja yang bisa kita sebut sahabat, yang bisa kita andalkan untuk berbagi tawa dan air mata.
Lantas, apakah arti sahabat yang sebenarnya? Filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, berpendapat, “What is a friend? A single soul in two bodies.” Pernahkah sahabatmu mengerti apa yang kamu maksud hanya dengan melihat ekspresi wajahmu atau gerak tanganmu semata? Atau mungkin, sahabatmu bisa mengucapkan kalimat sama persis seperti yang kamu pikirkan? Unik, bukan? Begitulah sahabat. Dengan ajaibnya ia bisa memahami kita tanpa kita perlu mengatakannya, seolah-olah ia bagian dari diri kita.
Lain halnya dengan Ralph Waldo Emerson, seorang sastrawan Amerika. Menurutnya, “A friend is a person with whom I may be sincere. Before him I may think aloud.” Ketika kita bersama sahabat, kita tidak akan malu untuk menjadi diri sendiri. Dengannya kita merasa nyaman melakukan hal-hal yang bagi sebagian besar orang lain dianggap aneh dan abnormal. Kita tidak segan bernyanyi keras dengan suara cempreng kita, atau kita santai-santai saja mengupil atau kentut di hadapannya (dan dia tidak marah ketika kita melakukannya). Tentu kita akan berpikir dua bahkan tiga kali sebelum melakukan hal-hal memalukan di atas di depan orang lain.
Menemukan Sahabat Sejati
Bagaimana kita tahu bahwa kita telah menemukan sahabat sejati kita? Tentu kita tidak akan begitu saja menemukan orang itu. Kita tidak akan melihat cap bertuliskan “Sahabat Sejati” di dahinya ketika kita bertemu dengannya. Tidak ada pula pedoman khusus atau tata cara menemukan sahabat sejati. Ia hanya bisa ditemukan dengan hati. Maksudnya?
Tanyakan pada dirimu sendiri, bagaimana perasaanmu ketika bersama teman-temanmu. Mana yang membuatmu merasa nyaman? Mana yang akan kamu hubungi lebih dulu jika kamu butuh bantuan? Mana yang lebih kamu pilih untuk diajak jalan-jalan? Mana yang akan kamu bagi rahasiamu tanpa perlu merasa malu karenanya? Mana yang lebih dulu menyambutmu ketika kamu bersedih? Mana yang rela menemanimu dalam hujan hanya sekedar untuk membuatmu merasa lebih baik setelah patah hati? Tak diragukan lagi, orang yang kamu pikirkan ketika kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tak lain adalah sahabatmu.
Sudahkah Kamu Menjadi Sahabat yang Baik?
Pernahkah kamu berpikir, sudahkah kamu menjadi sahabat yang baik bagi sahabatmu? Sahabatmu merupakan orang pertama yang kamu tuju ketika kamu memiliki masalah dan ia selalu membuatmu merasa lebih baik. Bila sahabatmu datang padamu ketika ia bersedih, apakah kamu akan menyambutnya dengan tangan terbuka? Atau apakah kamu hanya senang bersamanya ketika ia mentraktirmu makan?
Banyak hal bisa dilakukan untuk menunjukkan perhatian kita pada sahabat, misalnya saja:
- Meluangkan waktu untuknya
Oke, kamu sibuk. Ia pun sibuk. Namun bukan berarti hubungan kalian mandek di situ, bukan? Tunjukkan perhatianmu dengan cara mengirimnya SMS atau pesan di Facebook hanya sekedar untuk menyapanya. Jangan hanya menghubunginya ketika kamu membutuhkannya dan melupakannya begitu saja jika tidak ada yang bisa ia lakukan buatmu. - Mendukungnya
Ada kalanya sahabatmu akan mengambil keputusan atau melakukan sesuatu yang akan merubah hidupnya. Selama hal itu baik untuknya, kamu bisa menunjukkan dukunganmu dengan terus memberinya semangat. Sebaliknya, ingatkan dia bila apa yang akan ia lakukan akan berdampak buruk baginya. - Selalu ada untuknya dalam susah dan senang
Memang membosankan mendengarkan keluhan, tapi sebagai sahabat yang baik, sudah seharusnya kamu ada untuknya, terlebih dalam saat-saat di mana ia paling membutuhkanmu. Hibur dia dan buat dia tertawa kembali. - Bisa menyimpan rahasia
Antar sahabat pasti akan saling bertukar rahasia. Sahabat yang baik tentu bisa menjaga rahasia sahabatnya dan bukannya ‘ember’ membeberkan hal pribadi sahabatnya ke orang lain. - Menerimanya apa adanya
Mungkin kamu berpikir, kebiasaan leletnya sudah melebihi batas kesabaranmu. Sebal memang selalu menunggunya tiap kali kalian janjian pergi ke suatu tempat. Apa boleh dikata, kebiasaan buruknya ini sudah mendarah daging dan sulit dihilangkan. Coba ingat baik-baik, apakah ia lebih banyak membuatmu jengkel daripada membuatmu senang? Apakah hanya karena kebiasaan buruknya ini kamu akan menghapusnya dari daftar sahabatmu? Sahabat yang baik tentu bisa memahami dan menerima sahabatnya apa adanya. - Jangan biarkan pertengkaran berlarut-larut
Jika kamu bersalah pada sahabatmu, berbesar hati dan minta maaflah padanya. Sebaliknya, jika sahabatmu datang untuk meminta maaf dengan tulus, maafkan dia dan lupakan apa yang pernah terjadi. - Bersahabat dengan tulus
Alih-alih memikirkan apa yang telah kamu dapat dari persahabatanmu dengannya, atau apa yang telah kamu perbuat untuknya dan apa yang belum ia perbuat buatmu, cobalah untuk lebih tulus bersahabat dengannya. Jangan memikirkan siapa yang lebih memberi dalam persahabatan, namun pikirkan apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat persahabatan itu tetap ada.
Oprah Winfrey pernah berkata, “Banyak orang ingin bepergian denganmu dalam sebuah limosin yang nyaman. Namun, yang kamu inginkan hanya seseorang yang mau bepergian dengan bus bersamamu ketika limosin itu rusak.”
Sebagian besar orang berpendapat sulit rasanya menemukan teman sejati ketika kita bergelimpangan uang dan kesuksesan karena apa yang mereka inginkan dari kita mungkin bukanlah sebuah persahabatan sejati. Agaknya memang tidak mudah untuk menemukan seseorang yang bisa menerima kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Ketika kita berhasil menemukan seseorang yang dengannya kita bisa berbagi segala hal – tidak hanya kebahagiaan, tapi juga kesedihan – sepatutnya kita bersyukur karena kita telah menemukan seorang sahabat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar